[Interview] Pesona Prefektur Oita: Kota Internasional yang Nyaman Ditinggali Orang Indonesia

WeXpats
2024/02/13

“Kamu yang saat ini tertarik untuk datang ke Jepang, ingin menjalani kehidupan seperti apa di Jepang? Yuk coba bayangkan. Ada orang yang ingin menjalani kehidupan perkotaan seperti yang sering ditunjukkan di TV maupun media sosial. Ada juga orang yang ingin tinggal di tempat yang tenang dan dikelilingi oleh kekayaan alam. Kami baru menyadarinya pada saat sampai di Jepang, bahwa kami sepertinya adalah tipe yang kedua.”

Begitulah kata Dani san dan Widya san yang sekarang bekerja di Jepang. Keduanya adalah caregiver yang bekerja di sebuah tempat bernama Prefektur Oita di Jepang menggunakan visa pekerja berkeahlian khusus atau tokutei ginou.

 
Oita kota baruku ~ Ayo kerja di Oita ~

Apakah Anda ingin mencoba bekerja di Prefektur Oita?🤭 Yuk lihat video senior-senior dari Indonesia berbagi pengalaman tentang tinggal di Oita! Jika tertarik, harus banget lihat! Kamu pasti akan suka Oita juga 😊 #Oita #KehidupandiOita #BekerjadiOita #KehidupandiJepang #BekerjadiJepang #WNIdiOita

Posted by Oita kota baruku ~ Ayo kerja di Oita ~ on Wednesday, January 17, 2024


Mungkin banyak yang berpikir bahwa imej orang-orang Jepang adalah para pekerja yang sangat sibuk yang selalu naik kereta sesak untuk bekerja. Namun, meski di kota-kota besar kamu akan sering menjumpai pemandangan serupa, di kota-kota kecil yang ada di daerah pedesaan kamu juga bisa menjumpai kehidupan yang santai.

Pedesaan di Jepang juga memiliki infrastruktur yang maju, sehingga kamu bisa menjalani kehidupan yang praktis. Pada saat musim semi, sakura akan mekar. Kemudian pada musim gugur, pepohonan akan berganti warna menjadi merah. Dalam satu tahun, kamu dapat menikmati berbagai pemandangan yang berbeda, sehingga tidak akan bosan. Harga barang di sini juga lebih murah dibandingkan kota-kota besar, sehingga cocok untuk yang ingin menabung banyak penghasilan.

Dani san dan Widya san tinggal di Prefektur Oita, yang merupakan salah satu daerah pedesaan yang ideal untuk ditinggali. Daerah yang terkenal dengan keunikannya sebagai daerah dengan “Onsen terbanyak di Jepang” ini mendapat peringkat tinggi dalam “peringkat daerah pedesaan yang ingin dihuni di Jepang” yang dikeluarkan oleh sebuah penerbit di Jepang. Melalui wawancara dengan keduanya, mari kita simak bagaimana sih pesona kehidupan di daerah pedesaan Jepang ini.

【PR】Artikel ini ditulis dengan komisi dari Prefektur Oita.

Ternyata Ada Juga Tempat Seperti Ini di Jepang! Bekerja di Daerah dengan Alam yang Indah

Dani
Saya adalah Dani. Sekarang bekerja sebagai caregiver di Prefektur Oita, Jepang. Usia saya 24 tahun, asal saya Magelang. Saya datang ke Jepang 3 bulan yang lalu. (Interview dilaksanakan pada Oktober 2023)

Widyawati
Saya Widyawati yang bekerja di tempat yang sama dengan Dani san. Usia saya 27 tahun, asal Pekanbaru. Saya beragama Buddha. Saya baru sampai di Prefektur Oita 3 bulan yang lalu, jadi gugup rasanya diwawancarai.

―― Mengapa kalian berdua memutuskan untuk bekerja di Jepang?

Dani
Saya ingin langsung bekerja setelah lulus kuliah. Saya belajar jurusan keperawatan di universitas, tetapi di Indonesia untuk bisa bekerja sebagai perawat, setelah lulus kuliah pun harus menjalani magang, dan belajar untuk mendapatkan sertifikasi.

Lalu, saya memutuskan untuk bekerja di Jepang dengan menggunakan visa “tokutei ginou” (visa pekerja berkeahlian khusus). Jika lulus ujiannya, bisa langsung bekerja setelah lulus, kemudian pekerjaan caregiver juga dekat dengan keperawatan, sehingga saya bisa memanfaatkan hal-hal yang saya pelajari di universitas.

Widyawati
Saya datang ke Jepang karena ingin bekerja sebagai kaigo atau caregiver. Saat ini saya memang bekerja sebagai caregiver lansia, tetapi saya juga memiliki minat untuk mendukung anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga saya ingin mencoba berbagai hal baru.

――Jepang yang mengalami kenaikan populasi lansia adalah tempat yang tepat ya untuk orang yang ingin bekerja sebagai caregiver. Apakah kamu sudah terbiasa dengan kehidupan di Jepang?

Dani
Sudah agak terbiasa sepertinya. Prefektur Oita tempat saya tinggal dikelilingi oleh alamnya yang kaya, sehingga atmosfernya mirip dengan Indonesia. Ada laut, gunung, dan sawah. Sebelum datang ke Jepang saya agak khawatir tentang bagaimana hidup di lingkungan yang jauh berbeda, tetapi sekarang kekhawatiran itu sudah agak hilang.

Widyawati
Banyak bunga, mirip dengan Indonesia. Ya, walaupun jenis bunga yang mekar berbeda jauh sih. Prefektur Oita terkenal dengan bunga kochia. Kebun bunga berwarna merah cantik sekali.

Dani
Keluarga saya khawatir saya datang ke Jepang sendiri, tetapi setelah saya kirimkan foto, mereka jadi lega sepertinya. “Beneran mirip ya. Kalau Dani senang tinggal di Oita, kami juga senang,” begitu kata keluarga saya.

――Prefektur Oita adalah daerah pedesaan di Jepang ya. Jepang itu imej “kota”nya kuat. Mungkin banyak orang yang tidak tahu kalau ada tempat seperti itu ya.

Dani
Benar. Saya juga kaget ketika sampai di Oita dan berpikir “Wah, beda banget sama bayanganku”. Karena beda sekali dengan pemandangan di Tokyo dan Osaka yang sering saya lihat di TV atau media sosial. Tapi, karena saya tidak terlalu suka daerah yang banyak orang dan suka tempat yang indah, sebaliknya Oita justru tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Dani
Saat saya keluar rumah untuk bekerja, saya langsung melihat pemandangan indah pegunungan. Kami belum melihatnya langsung, tetapi kami dengar saat musim berganti warna-warna daun akan berubah menjadi merah. Jika tinggal di kota besar, setiap hari hanya bisa melihat orang-orang. Waktu berjalan dengan santai, jadi daerah pedesaan Jepang mirip dengan daerah pedesaan di Indonesia.

―― Sebaliknya, ada tidak kekhawatiran tinggal di daerah pedesaan?

Dani
Daerah tempat kami tinggal di Prefektur Oita pun bisa dibilang daerah desa, tetapi ada supermarket, minimarket, dan toko obat. Berbeda dengan daerah pedesaan di Indonesia ya.

Tetapi, memang kalau perlu membeli baju, skin care, makanan halal, kami perlu naik kereta hingga ke kota yang lebih besar. Keretanya tidak terlalu banyak, tetapi ada juga toko online seperti Amazon, sehingga tidak ada kesulitan yang cukup besar sejauh ini.

Widyawati
Pada hari libur, saya pergi ke kota yang lebih besar bernama “Beppu”. Ada theme park, aquarium, mall, dan banyak tempat bermain lain di Prefektur Oita kata rekan-rekan kerja saya. Lalu, ada juga spot Studio Ghibli yang saya suka. Banyak tempat yang saya ingin kunjungi, sepertinya tidak akan bosan.


[Artikel] Prefektur Oita itu tempat yang seperti apa sih?

Prefektur Oita tempat Dani san dan Widyawati san tinggal adalah prefektur dengan onsen terbanyak di Jepang yang juga terkenal sebagai daerah wisata di Jepang. Banyak wisatawan dan mahasiswa asing dari luar negeri. Tempat ini juga semakin berkembang menjadi tempat yang terbuka untuk orang-orang dari berbagai latar belakang budaya di seluruh dunia, sehingga nyaman ditinggali bagi warga negara asing.

Onsen dapat membuat badan pulih dari rasa lelah dan baik untuk kulit, sehingga banyak penduduk lokal Oita yang datang ke onsen untuk mandi setiap hari dan tidak mandi di rumah. Karena ada onsen privat atau ruangan pribadi, jadi orang Indonesia pun bisa menikmati onsen tanpa khawatir karena harus membuka pakaian di depan orang lain.


▲Orang Indonesia yang bekerja di penginapan tradisional Jepang yang memiliki onsen. Mahasiswa asing di Prefektur Oita yang sedang melakukan internship.


▲Di pusat Prefektur Oita ada mall besar, restoran-restoran halal, toko-toko bahan makanan halal, dll yang letaknya berdekatan.

Kemudian, karena di Jepang pun Prefektur Oita adalah prefektur yang biaya hidupnya cukup murah (peringkat 7 termurah dari 47 prefektur), pengeluaran untuk biaya hidup dapat ditekan. Sebagai perbandingan, rata-rata biaya sewa apartemen di Tokyo untuk hidup sendiri adalah sekitar 72,000 JPY (Rp 7,7 juta), sedangkan di Prefektur Oita adalah sekitar 45,000 JPY (Rp 4,8 juta). Kurs ini diambil dari data kurs yen terhadap rupiah pada January 2024.

 

Biaya hidup di Prefektur Oita lebih murah dibandingkan kota besar. Kira-kira berapa sih biaya hidupnya? Kami juga akan...

Posted by Oita kota baruku ~ Ayo kerja di Oita ~ on Sunday, December 17, 2023

Jika kamu ingin tahu lebih lanjut tentang Prefektur Oita, yuk cek juga artikel berikut ini.

Setelah Bekerja di Jepang 3 Bulan, Kami Merasa Orang-orang Oita Baik

――Bagaimana lingkungan kerjanya?

Widyawati
Orang-orang kantor ramah-ramah. Mereka mengajari saya dengan baik. Ketika saya tidak mengerti apa yang mereka katakan dalam bahasa Jepang, mereka akan mengulanginya dengan bahasa Jepang yang lebih mudah.Saya merasa mereka perhatian.

Dani
Saya merasa karakter mereka yang mementingkan privasi sangat bagus. Kami akur dengan orang-orang di lingkungan kerja, mengobrol juga, tetapi tidak pernah ditanya-tanya yang tidak sopan. Tidak hanya baik saja, tetapi jarak pada saat interaksinya bagus menurut saya.

Widyawati
Seperti yang saya bilang di awal, kami bekerja merawat lansia. Semua orang baik. Saat mereka tertawa, saya juga merasa senang.

――Di tempat kerja apakah ada orang Indonesia lainnya?

Dani
Tidak ada. Orang Indonesia yang pertama bekerja di perusahaan kami ya kami berdua ini. Oleh karena itu ini juga pertama kalinya mereka berhubungan dengan orang muslim, tetapi mereka mau menghormati perbedaan budaya kami. Misalnya pada saat waktu salat tiba, mereka mengingatkan “Sebentar lagi sudah jamnya ibadah kan?”, atau memuji “Hari ini hijabnya cantik ya”. Saya senang mereka berusaha untuk saling memahami.

Widyawati
Orang Indonesianya hanya kami berdua, tetapi kami juga mendapatkan teman Indonesia yang bekerja di perusahaan lainnya di dekat sini.

――Hebat! Di dekat tempat kerja kebetulan bertemu dengan orang Indonesia lain?

Widyawati
Saya juga kaget! Tapi memang rasanya senang bisa mendapat teman yang sama-sama bicara dengan bahasa Indonesia. Kemarin kami juga pergi belanja bersama. Seru sekali.

Dani
Di kota besar yang ada di Prefektur Oita ada banyak mahasiswa asing dari Indonesia, karena itu katanya restoran halal pun bertambah banyak.

――Ngomong-ngomong tentang makanan halal, bagaimana makanan kalian di Jepang? Dani san kan muslim ya, sepertinya susah ya…

Dani
Kalau untuk beli makanan halal, saya harus pergi naik kereta. Jadi seringnya saya makan sayur yang saya beli dari supermarket. Bumbu-bumbu saya bawa dari Indonesia, saya pakai untuk memasak sayur atau sup dengan rasa yang saya sudah familiar.

Kalau makanan Jepang, seringnya saya makan sushi. Beli sushi yang sudah dipack di supermarket. Ikan di Prefektur Oita segar.


――Kalau Widyawati san bagaimana?

Widyawati
Teman-teman kerja sering membagi bento mereka dengan saya, jadi saya sedang mencoba berbagai makanan baru. Karena itu, saya perlahan-lahan mulai suka masakan Jepang.

――Akrab ya dengan rekan-rekan kerja. Ada masakan Jepang yang disukai?

Widyawati
Di Prefektur Oita yang terkenal adalah karaagenya, atau ayam goreng hits di Jepang. Rasanya beda banget dengan ayam goreng Indonesia. Ayamnya dibumbui, cocok untuk lidah Indonesia menurut saya.

Widyawati
Selain itu, tumis pare. Saya memang suka pare sih, tapi tumis pare khas Jepang yang saya makan bersama rekan kerja saya enak sekali sampai saya kaget. Coba saya tanya ya cara buatnya hahaha…

――Orang-orang di sekitar baik-baik. Ada orang Indonesia juga. Sepertinya lingkungannya nyaman ditinggali ya. Sebaliknya ada tidak kesulitannya?

Dani
Waktu bekerja, pertama bahasa Jepangnya susah sekali. Saya sudah belajar sih, tetapi ternyata bahasa Jepang yang dipelajari di buku dengan aslinya banyak yang beda… Terutama dialek yang digunakan oleh para lansia, banyak yang saya tidak bisa tangkap. Susah sih, tetapi rekan-rekan kerja saya banyak membantu.

Widyawati
Tapi, dialek Oita itu lucu ya.

Dani
Iya, terutama imbuhan “chon”nya. Mungkin sulit dipahami oleh pembaca artikel ini, misalnya “Nani shichon?” (Sedang apa) “Shigoto shichon” (Sedang bekerja). Kira-kira begitu. Pelafalannya lucu haha…

Widyawati
Saya ingin belajar bahasa Jepang lagi dan coba pakai dialek Oita haha…

Cita-cita di Masa Depan: Mewujudkan Mimpi di Oita

――Apakah kalian bisa menceritakan cita-cita kalian di Jepang?

Widyawati
Saya bekerja sebagai caregiver karena awalnya ingin bekerja menolong anak-anak berkebutuhan khusus. Di Indonesia keperawatan anak-anak berkebutuhan khusus masih belum maju, sekolah-sekolah anak-anak berkebutuhan khusus juga sedikit, banyak kasus pembulian. Saya ingin mendapatkan pengalaman merawat anak-anak berkebutuhan khusus di Jepang. Ingin juga membawa pulang keahlian dsb ke Indonesia.

――Kalau Dani san bagaimana?

Dani
Kalau saya ingin melakukan pekerjaan membantu orang-orang di rumah sakit. Jadi saya ingin bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Saya ingin tahu apa bedanya rumah sakit Indonesia dan Jepang, terutama terkait dengan interaksi dengan pasien.

Saya sama seperti Widyawati san, saya juga ingin memanfaatkan hal-hal yang saya pelajari di Jepang di Indonesia nantinya.

Widyawati
Program tokutei ginou yang saya gunakan ini hanya memungkinkan saya bekerja di Jepang paling lama 5 tahun. Lebih dari itu, jika saya ingin melanjutkan bekerja di Jepang, saya perlu mengambil sertifikasi nasional di Jepang. Jadi saat ini target saya adalah lulus ujian itu.

Untuk itu, sekarang saya ingin semangat bekerja dan belajar di Prefektur Oita sambil menikmati keindahan alamnya.

――Terakhir, apakah bisa berikan saran kepada orang-orang Indonesia yang ingin bekerja di Jepang?

Widyawati
Kalau ingin bekerja di Jepang, pertama bayangkan dulu kehidupan seperti apa yang ingin kamu jalani. Ada orang yang ingin menjalani kehidupan di perkotaan seperti di TV atau media sosial, ada juga orang yang ingin tinggal di tempat yang tenang dengan alam yang indah.

Dani
Ini adalah saran yang sangat personal dari saya sih. Menurut saya, karena tujuan saya datang ke Jepang adalah untuk “bekerja”, jadi saya lebih bisa fokus di tempat yang tenang seperti Prefektur Oita. Kalau setelah mendengar cerita dari kami, kamu berpikir kalau “kehidupan pedesaan enak ya” atau memang merasa “saya tidak cocok dengan kehidupan kota”, yuk coba cari pekerjaan di Prefektur Oita.

[Artikel] Ayo Bekerja di Prefektur Oita dengan Lingkungan Internasional Tanpa Kehilangan Jati Diri

Seperti halnya Dani san dan Widyawati san yang kita dengarkan ceritanya kali ini, tidak hanya di bidang caregiver saja, ada banyak orang dari penjuru dunia yang berdatangan ke Prefektur Oita.

Di Prefektur Oita ada universitas dengan mahasiswa asing terbanyak di Jepang yaitu Ritsumeikan Asia Pacific University. Jadi banyak event internasional yang diadakan oleh anak-anak muda. Di acara seperti ini kamu bisa mendapatkan kesempatan menambah teman orang Indonesia.

Universitas ini terletak di Kota Beppu, kota yang terasa atmosfer internasionalnya, serta memiliki lingkungan yang ramah bagi para muslim karena ada banyak restoran yang menyediakan menu halal karena permintaan dari mahasiswa. Senang sekali ya bisa makan makanan khas Jepang seperti ramen yang halal!


▲Band Indonesia yang tampil pada "OITA WORLD FESTA 2023".

Tentu saja ada juga dukungan dari pemerintah untuk para pendatang. Misalnya pada tahun 2023 lalu, ada workshop yang ditujukan bagi staf caregiver. Di workshop ini staf Indonesia dan staf Jepang berpartisipasi mempelajari cara komunikasi, dengan tujuan menciptakan lingkungan kerja yang saling menghargai satu sama lain.


Kemudian, karena ada juga Oita Information & Support Center tempat para WNA dapat berkonsultasi terkait masalah pekerjaan atau kehidupan di Oita dalam bahasa Indonesia, rasanya tenang ya jika ada tempat yang bisa diandalkan selain tempat kerja saja.

 

Apa sih hal yang menarik jika tinggal di Prefektur Oita? Prefektur Oita adalah tempat yang memiliki berbagai pesona bagi...

Posted by Oita kota baruku ~ Ayo kerja di Oita ~ on Sunday, December 31, 2023

▲Pada laman resmi Prefektur Oita “Oita kota baruku~Ayo kerja di Oita~”, kami membagikan informasi-informasi tentang keunikan Prefektur Oita kepada orang Indonesia. Yuk jangan lupa follow akunnya.

Apakah kamu ingin mewujudkan mimpi kamu di Prefektur Oita yang alamnya indah, internasional, dan merupakan tempat di mana kamu tetap dapat mengekspresikan diri sebagai orang Indonesia?

 

Penulis

WeXpats
Di sini kami menyediakan artikel yang mencakup berbagai informasi yang berguna tentang kehidupan, pekerjaan, dan studi di Jepang hingga pesona dan kualitas Jepang yang menarik.

Sosial Media ソーシャルメディア

Kami berbagi berita terbaru tentang Jepang dalam 9bahasa.

  • English
  • 한국어
  • Tiếng Việt
  • မြန်မာဘာသာစကား
  • Bahasa Indonesia
  • 中文 (繁體)
  • Español
  • Português
  • ภาษาไทย
TOP/ Kehidupan di Jepang/ Rumah dan Kehidupan di Jepang/ [Interview] Pesona Prefektur Oita: Kota Internasional yang Nyaman Ditinggali Orang Indonesia

Situs web kami menggunakan Cookies dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas dan kualitas kami. Silakan klik "Setuju" jika Anda menyetujui penggunaan Cookie kami. Untuk melihat detail lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan kami menggunakan Cookies, silakan lihat di sini.

Kebijakan Cookie