Wagasa, Payung Tradisional dari Jepang

WeXpats
2021/07/12

Properti yang menjadi ciri khas sebuah negara, selain menarik, juga bisa dijadikan referensi oleh-oleh ketika berkunjung ke negara tersebut. Belanda memiliki sepatu klompen, Rusia dengan topi ushanka, dan Jepang memiliki payung wagasa. Sebuah payung yang sering dibawa oleh perempuan Jepang ketika berkimono, atau dipajang di hotel-hotel dan restoran sebagai hiasan.

Dilihat dari pembentukan huruf kanjinya, wagasa terbentuk dari dua huruf kanji yaitu ‘wa’ yang berarti Jepang, dan ‘kasa’ atau ‘gasa’ yang berarti payung. Meskipun meskipun berfungsi sebagai pelindung diri, namun payung ini memiliki bahan yang berbeda dari payung pada umumnya. Tidak akan ditemui payung yang kukuh berbahan besi dan kain yang dijahit, melainkan kertas yang dilukis.

Daftar Isi

  1. Mengenal Wagasa
  2. Sejarah Wagasa
  3. Ciri Khas Wagasa
  4. Cara Membuat Payung Jepang

Mengenal Wagasa

Wagasa merupakan payung tradisional khas Jepang yang terbuat dari rangka bambu, yang dibalut dengan washi atau kertas Jepang. Sebuah nilai unik dari payung ini adalah bentuk yang presisi, terutama ketika dibuka atau ditutup. Selain itu, keindahan paduan warna dan coraknya juga halus dan terukir sempurna. Apalagi, warna-warna cerah hasil kreativitas pembuatnya.

Tampil sebagai karya seni, payung ini ditempatkan sebagai aksesori busana. Meskipun kemunculan awalnya hanya untuk perlindungan di kala hujan, payung ini sekarang banyak ditemukan ketika diselenggarakan acara tradisional Jepang. Upacara-upacara tradisional akan memperlihatkan warna-warni wagasa yang juga melambangkan para pemiliknya. Hal itu berarti, warna payung ini tidak sembarangan dipilih.

Payung kertas dengan warna ungu atau dominan ungu, akan melambangkan bahwa yang membawanya adalah seorang geisha. Sementara para aktor berwarna hitam atau coklat, dan para penari membawa warna pink. Payung merah akan ditemui jika sedang ada upacara minum teh dan juga acara-acara pernikahan. Sementara ketika prosesi pemakaman, para wanita akan membawa payung tradisional putih.

Payung tradisional ini, selain dipakai pada upacara tradisional, terkadang juga dipakai secara kreatif sebagai hiasan seperti rumah, hotel, atau restoran. Beberapa payung yang terbuka, dapat diajarkan di hall bagian depan untuk mempercantik tampilan properti. Bentuk payung yang semakin kreatif, bukan hanya lingkaran, memperindah tampilan jalan-jalan di acara-acara festival.

Pada awal periode Hakka, payung juga diberikan sebagai maskawin. Hal tersebut memberikan perlambang sekaligus harapan bagi pasangan agar dikaruniai anak laki-laki, atau juga banyak anak dan cucu. Bentuk payung terbuka yang bulat melambangkan kehidupan sempurna dan lengkap. Upacara keagamaan bahkan menempatkan payung ini sebagai cara untuk mengusir roh jahat.

Sejarah Wagasa

Awal kemunculan payung lipat ini adalah di tahun 1550. Fungsi utamanya adalah untuk pertahanan tubuh selain menggunakan topi jerami dan juba, yang kerap digunakan sebelum muncul wagasa. Hal tersebut karena payung dinilai sebagai barang mewah yang mahal dan sulit didapatkan. Hanya orang dengan status sosial tertentu yang menggunakan payung ketika bepergian.

Periode Edo membawa payung menjadi lebih merakyat dan mudah didapatkan oleh kalangan mana pun. Bukan hanya untuk fungsi yang spesifik seperti melindungi diri, payung juga mulai digunakan sebagai aksesoris bergaya. Jika memperhatikan foto-foto kuno bergaya Jepang, akan ditemui gaya khas berkimono dengan membawa payung warna-warni dan bercorak.

Tradisi membawa wagasa ini sebenarnya memiliki catatan sejarah tersendiri. Payung tradisional ini memiliki cerita mistis, di mana ada sosok roh yang konon muncul dari payung, setelah kematiannya 100 tahun silam. Roh tersebut bernama Karakasa Obake, atau hantu payung. Penampakannya mirip seperti payung yang dilipat dengan satu mata dan satu kaki.

Wagasa, meskipun tergeser dengan keberadaan payung barat yang lebih modern, tetap bisa ditemui ketika festival-festival tradisional. Selain itu, ketika menyelenggarakan upacara minum teh, teater, ataupun pesta-pesta kesenian, payung tradisional ini bisa ditemui sebagai properti. Di samping itu, para kolektor juga menempatkan payung tradisional ini sebagai salah satu bahan koleksi yang bernilai tinggi, selain souvenir yang menarik.

Ciri Khas Wagasa

Selain warna-warna yang khusus diberikan kepada pemakainya, ornament lukisan juga melambangkan ciri tertentu dan juga daerah asal pembuatannya. Lukisan merupakan salah satu budaya khas Jepang yang populer pada periode Azuchi, Momoyama, hingga ke zaman Edo. Produksi kertas dan bambu yang meningkat pada zaman Heian, berpadu dengan inovasi periode Muromachi berupa olesan lilin yang membuat kertas tahan air.

Payung kertas yang berasal dari Kyoto, dibuat dari bahan bambu kameoka khas Kyoto. Bahan kertasnya bernama Meinong Gifu, yang diolesi dengan minyak wijen serta diikat tali halus. Corak khas yang menjadi ciri payung asal Kyoto adalah lingkaran di sisi bagian luar kertas payung yang disebut janomegasa. Secara harfiah berarti mata ular.

Berbeda dengan Kyoto, Gifu memulai produksi payung kertas sekitar tahun 1750. Payung disini dibuat dengan detail yang sangat presisi, bahkan melewati hingga seratus prosedur. Payung ini bisa diproduksi selama periode Shōwa hingga mencapai yaitu 15 juta tiap tahunnya. Produksinya saat ini menurun, hanya sekitar puluhan ribu per tahun.

Pada Tahun 1821, payung kertas minyak mulai diproduksi di Yodoe, Tottori. Jumlahnya tidak terbilang banyak, karena dalam satu tahun hanya tercatat beberapa ribu saja. Meskipun demikian, berlimpahnya bahan baku pembuat payung ini seperti bambu, kertas, serta bahan lainnya, produksi bisa meningkat lebih dari 70%.

Cara Membuat Payung Jepang

Seperti terlihat dari tampilan luarnya, payung tradisional ini terbuat dari bahan-bahan yang non-pabrikan. Bambu dan kertas adalah hasil alam yang menjadi hasil beberapa daerah di Jepang. Dengan demikian, wagasa sebenarnya sekaligus sebuah optimasi potensi sumber daya alam di Jepang.

1. Cari Bahan-Bahan

Bahan utama yang harus dicari adalah bambu dan kertas. Bambu, di Jepang bisa didapatkan dari beberapa distrik atau kabupaten seperti Nantou, Cishan, atau Puli. Daerah-daerah tersebut memiliki produksi bambu yang cocok sebagai bahan pembuatan wagasa. Apalagi bambu moso yang tumbuh di Qushan. Kekuatan serta elastisitasnya sangat pas digunakan sebagai perancah atau pegangan payung.

Bambu-bambu tersebut harus terlebih dahulu direndam air dalam waktu hingga 1 bulan. Teknik ini dilakukan untuk menghilangkan kadar gula di dalam bambu, karena tanaman ini memiliki khas rasa manis yang banyak disukai binatang seperti panda.

Bahan berikutnya adalah kertas jepang, kain sutera, dan perekat. Kertas sebagai alas dijahit satu persatu. Proses ini disebut shitago. Kertas yang menjadi bahan payung dilampirkan dengan merata, diukur sesuai dengan kerangka bambu yang sudah dibuat sebelumnya.

2. Pengeleman

Payung tradisional Jepang tidak disemat menggunakan pengait kawat atau besi, melainkan menggunakan benang jahit dan proses pengeleman. Washi atau kertas payung ditempelkan di atas kerangka payung, lalu ditempelkan dengan lem pasta. Selanjutnya, kertas akan diolesi minyak untuk menguatkannya dari paparan hujan dan matahari.

Wagasa merupakan hasil karya tradisional yang beralih fungsi di Jepang. Asalnya payung hanya berupa barang mewah yang sangat sulit ditemukan mahal didapatkan. Namun demikian, dengan polesan kreativitas, payung beralih menjadi barang unik dan menarik yang banyak dicari turis. Bahkan, digunakan juga pada acara tradisional Jepang.

Baca juga: Jenis Baju Tradisional Jepang Tidak Hanya Kimono. Kenali Perbedaannya!

Penulis

WeXpats
Di sini kami menyediakan artikel yang mencakup berbagai informasi yang berguna tentang kehidupan, pekerjaan, dan studi di Jepang hingga pesona dan kualitas Jepang yang menarik.

Sosial Media ソーシャルメディア

Kami berbagi berita terbaru tentang Jepang dalam 9bahasa.

  • English
  • 한국어
  • Tiếng Việt
  • မြန်မာဘာသာစကား
  • Bahasa Indonesia
  • 中文 (繁體)
  • Español
  • Português
  • ภาษาไทย
TOP/ Budaya Jepang/ Tradisi budaya Jepang/ Wagasa, Payung Tradisional dari Jepang

Situs web kami menggunakan Cookies dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas dan kualitas kami. Silakan klik "Setuju" jika Anda menyetujui penggunaan Cookie kami. Untuk melihat detail lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan kami menggunakan Cookies, silakan lihat di sini.

Kebijakan Cookie