13/06/2022

Ainu, Suku Asli Jepang yang Bertahan di Tengah Intimidasi

Jepang dengan kecanggihan teknologinya, ternyata juga memiliki suku asli yang hidup sangat tradisional. Suku tersebut adalah Ainu, penduduk asli Jepang yang banyak bermukim di Hokkaido. Namun demikian,suku ini tidak hanya tinggal di Jepang, karena ternyata juga ditemukan di Rusia, tepatnya di Pulau Sakhalin.

Daftar Isi

  1. Sejarah Suku Ainu
  2. Perjalanan Kelam Suku Ainu
  3. Pengakuan dari Negara
  4. Fakta Unik Suku Ainu

Sejarah Suku Ainu

Sebagai suku asli, tentu ada banyak hal bersejarah yang membentuk cerita peradabannya. Seperti halnya negara lain yang menghadapi kolonialisme, Ainu juga mengalami hal yang sama. Namun demikian, suku ini terbilang sangat primitif dan tetap bertahan dengan tradisionalismenya hingga saat ini.

Banyak sekali perbedaan cara pandang dan juga jalan hidup dari suku ini, dibandingkan dengan orang atau bangsa Jepang pada umumnya. Tidak hanya dari budaya dan agama, namun dalam kehidupan sehari-hari pun akan terlihat sekali bahwa Ainu memiliki ciri khas yang sangat unik.

Masa perburuan manusia tradisional memang dikenal oleh banyak kalangan peneliti sejarah. Termasuk suku asli Jepang ini yang melakukan perburuan untuk mendapatkan makanan sehari-hari. Biasanya, hewan buruan adalah binatang-binatang jinak yang ada di hutan. Namun suku aini lebih sering berburu beruang, atau rusa-rusa yang ada di pegunungan.

Selain itu, kehidupan juga ditopang dengan sumber makanan lain yaitu ikan salmon, ikan todak, bahkan anjing laut. Meskipun cara berburu pada akhirnya mengikuti ketersediaan pangan, namun kemampuan berburu suku asli Jepang ini memang menjadi salah satu ciri yang sangat khas.

Bangsa ini tinggal di sebuah desa, terdiri dari sekitar sepuluh rumah. Tempatnya tinggal disebut kotan, yang juga dipilih dengan berbagai dasar kebutuhan seperti jauh dari bencana alam dan jauh dari bahaya serangan binatang. Di dalam pemukiman kotan tersebut terdapat rumah-rumah yang disebut cise.

Konstruksi cise bukanlah terbuat dari bahan bangunan mewah, melainkan memanfaatkan bahan dari alam. Terdapat pembagian tugas di sini, yaitu laki-laki harus membuat peralatan dan perlengkapan memburu, sementara perempuan yang akan menyiapkan makanan.

Suku ini terbilang religius dengan adanya ritual doa kepada roh dewa. Ketika melakukan perburuan atau memancing, tidak serta merta mencari bahan makanan. Namun di saat yang bersamaan juga melakukan penyembahan kepada roh hewan-hewan yang telah memberikan banyak manfaat.

Perjalanan Kelam Suku Ainu

Sejarah sebuah bangsa minoritas pada umumnya memiliki masa kelamnya sendiri. Suku Ainu ternyata juga pernah memiliki masa kelamnya. Suku ini bukan menghadapi agresi penjajah, melainkan harus berhadapan dengan bangsa sendiri yang lebih mayoritas.

1. Masa Tekanan Pemerintah Jepang

Suku asli yang kaya dengan tradisi unik ini ternyata tidak serta merta diakui oleh negara tempat berdiam. Berbagai rintangan harus dilalui, apalagi tanpa adanya pengakuan dari otoritas Jepang saat itu.

Pemerintah Jepang baru mengakui eksistensi suku ini pada tahun 2019. Padahal, keberadaannya sudah muncul jauh sebelum abad ke-15. Tidak hanya itu, di kisaran abad ke-14 suku ini juga pernah mendapatkan intimidasi besar-besaran dari Jepang yang pada saat itu melakukan kontrol penuh pada wilayah Hokkaido.

2. Populasi Menurun karena Penyakit

Perlakukan buruk dari pemerintah Jepang seperti bukan satu-satunya masalah yang dihadapi oleh suku asli ini. Tekanan demi tekanan muncul salah satunya karena adanya wabah penyakit yang cukup aneh di tengah masyarakatnya. Hal ini menjadikan catatan turunnya populasi di medio 1822 sampai 1854.

3. Penghapusan Hak Tanah

Seperti tak berhenti mengalami penderitaan, turunnya populasi suku asli Jepang ini semakin dimanfaatkan oleh otoritas untuk menindas. Tidak ada kekuatan yang dimiliki sehingga tidak ada juga kemampuan untuk melawan.

Ditambah lagi dengan, pihak yang melakukan agresi memiliki kekuatan teknologi yang lebih modern di samping kekuatan armada yang lebih besar. Alhasil, bangsa ini mengalami kekalahan. Tradisi yang selama ini dijaga semakin dihancurkan, termasuk tanah adat yang tidak lagi diakui sebagai hak suku ini.

Bangsa ini semakin terusir dan nyaris punah karena penghapusan hak atas tanah tersebut. Dengan kebijakan Jepang menghapus hak tanah itu, banyak warga Jepang yang semakin membanjir datang dan menetap di Hokkaido. Bahkan, bahasa khas suku ini serta semua kegiatannya seperti memancing dan berburu juga dilarang digunakan.

4. Paksaan Asimilasi

Dengan banyaknya masyarakat Jepang yang masuk ke Hokkaido, secara tidak langsung otoritas Jepang memaksa suku ini untuk membaur. Paksaan asimilasi dengan pendatang ini tentu saja menyulitkan, terutama bagi yang sudah terbiasa dengan kegiatan sehari-hari selama berabad lamanya.

Meskipun pada akhirnya terjadi perubahan pandangan dari masyarakat Jepang pendatang di Hokkaido terhadap suku asli ini, namun tetap saja suku asli ini belum diakui oleh pemerintah Jepang sebagai penduduk asli pulau Jepang.

Pengakuan dari Negara

 

Perjalanan panjang benar-benar membawa suku ini kepada daya juang yang sangat tinggi. Anggota suku ini bertahan di tengah gempuran intimidasi yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Meskipun hampir punah, namun pada akhirnya secercah harapan didapatkan oleh suku asli ini.

Pada medio 2019, pemerintah Jepang pada akhirnya mengakui suku ini sebagai penduduk asli. Di tengah beratnya diskriminasi dan prasangka, semangat dan kesetiaan kepada budaya dan negara yang tidak padam memberikan warisan kultur untuk generasi penerusnya.

Bukan hanya negara Jepang, UNESCO sebagai salah satu elemen dunia yang fokus pada masalah kebudayaan juga mengangkat soal kepunahan bahasa Ainu. Dengan demikian, bahasa ini kemudian menjadi perhatian dunia dan mulai diperhatikan untuk kembali digali, dipelajari, dan dipertahankan.

Bahasa suku ini memang unik dari banyak aspek. Meskipun terlihat mirip dari urutan kata, namun sistem penulisannya memiliki karakter khusus. Dedikasi yang tinggi menyebabkan budaya dan bahasa ini terjaga oleh keturunannya, masyarakat Jepang. Bahkan oleh bangsa di dunia yang pada akhirnya menaruh perhatian pada suku asli Jepang ini.

Fakta Unik Suku Ainu

Masih banyak lagi keunikan yang dimiliki bangsa ini sebagai pembeda dengan bangsa atau suku lainnya. Beberapa hal ini hanya dimiliki oleh Ainu sebagai keunikan bangsanya:

1. Tato Mulut

Masyarakat di sana memiliki ciri khas yaitu tato pada bagian mulut. Selain mulut, pergelangan tangan juga menjadi tempat goresan tato. Gambar permanen ini diberikan kepada kaum perempuan yang mengalami pubertas. Dengan begitu, orang akan bisa membedakan kondisi kaumnya sendiri.

2. Pemberian Nama Anak Sementara

Hal unik lainnya yaitu ketika terjadi kelahiran di tengah masyarakatnya. Memberikan nama pada anak seharusnya menjadi kewajiban orang tua yang telah dipertimbangkan dengan matang. Namun tidak dengan suku ini, yang hanya memberikan nama sementara pada anak, sekadar untuk menangkal nasib buruk. Ketika anak beranjak ke usia 2 sampai 3 tahun, barulah diberikan nama tetap untuknya.

3. Penyembah Beruang

Kepercayaan yang dianut oleh suku ini juga menjadi warisan budaya yang tak kalah unik. Suku ini percaya bahwa semua yang berasal dari alam seperti hewan, tumbuhan, bahkan penyakit adalah roh yang akan berperan kuat pada kehidupan manusia. Hal itu disebut sebagai “kamuy”.

Salah satu kamuy yang dianggap membawa berkah adalah hewan yang memiliki bulu yang bisa dimanfaatkan untuk pakaian dan juga makanan. Maka, masyarakatnya kemudian menjadikan beruang sebagai kamuy yang harus dihormati.

Meskipun hewan-hewan juga diburu dan disantap oleh suku Ainu, namun tidak mengurangi ritual penghormatan kepada beruang sebagai roh dewa yang telah memberikan banyak manfaat. Begitulah keunikan suku asli Jepang yang hampir punah ini, namun bertahan di tengah intimidasi dan mewariskan kultur yang unik hingga sekarang. Jika ada di antara kalian yang ingin lebih tahu tentang suku-suku lain di jepang coba baca juga >> Mengenal Suku Ryuku dan Suku Lain Pribumi di Jepang.

Sekarang tidak lagi resah sendirian Komunitas tanya jawab tentang Jepang

Artikel terkait

Mengenal Kisah Legendaris Urashima Taro dari jepang

Masyarakat Jepang memiliki begitu banyak cerita rakyat yang menarik untuk disimak. Salah satunya adalah Urashima Taro yang merupakan sebuah cerita populer di Jepang. Kisah ini bukan hanya sembarang ce...

Budaya

Mengenal Upacara Pemakaman dan 5 Makam Jepang Paling Poputer

Setiap negara pasti memiliki kepercayaan tertentu dalam hal melaksanakan pemakaman bagi orang yang meninggal. Kepercayaan tersebut akan menjadi tradisi yang dilaksanakan terus-menerus. Seperti di nege...

Budaya

Suasana Lebaran di Jepang Tahun 2022

Selamat hari raya idul fitri dan mohon maaf lahir dan batin untuk teman-teman pembaca WeXpats semua nya. Bagi yang mau tahu bahasa jepang nya lebaran atau hari raya idul fitri adalah “断食明けのお祭り(D...

Budaya Sejarah・Agama Halal Festival dan event

Puasa orang Indonesia di Jepang & jadwal puasa di jepang

Hai teman-teman yang sudah pernah berpuasa dijepang ataupun yang belum pernah berpuasa dijepang!! Pada penasaran gak puasa dijepang tuh gimana sih?? Kali ini kita cari tahu yuk bagaimana muslim indone...

Budaya Sejarah・Agama

Kadomatsu, Dekorasi Tradisional khas Jepang Simbol Kemakmuran

Jepang punya begitu banyak jenis tradisi. Tak heran jika di Jepang juga banyak jenis dekorasi tradisional yang membawa makna-makan sakral. Salah satunya adalah dekorasi tradisional bernama kadomatsu y...

Budaya

Situs web kami menggunakan Cookies dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas dan kualitas kami. Silakan klik "Setuju" jika Anda menyetujui penggunaan Cookie kami. Untuk melihat detail lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan kami menggunakan Cookies, silakan lihat di sini.

Kebijakan Cookie