Seputar Gaya Pacaran Orang Jepang yang Diketahui Orang Indonesia, Bener Gak Sih?

WeXpats
2020/09/24

Oke, sebelum kamu dengan semangat mendeklarasikan ingin punya pacar orang Jepang, lebih baik kamu baca dulu artikel ini untuk lebih memahami seperti apa sih pergerakan orang Jepang dalam percintaan. Setidaknya kamu harus cek terlebih dahulu, informasi tentang gaya pacaran orang Jepang yang sering ramai dibincangkan di Indonesia apakah infonya valid?

Drama dan anime romance Jepang memang lagi hits banget di Indonesia, tapi kamu tidak bisa menelan semua informasi yang kamu tonton di film atau drama bulat-bulat. Namanya juga fiksi, pasti ada sisi yang dilebih-lebihkan atau sebenarnya orang Jepang asli tidak melakukan hal-hal tersebut. Untuk mengetahui kebenarannya, cek di sini!

Wajib “Kokuhaku” untuk Resmi Pacaran dengan Orang Jepang

Di drama-drama romantis yang kalian tonton, pasti udah gak asing dengan adegan di mana peran utamanya punya adegan menyatakan cinta yang membuat penonton ikut berdebar menyaksikannya. Biasanya diawali dengan “suki desu! (aku suka kamu)” yang kemudian diikuti dengan “tsukiatte kudasai! (jadilah pacarku)”. Urusan tembak menembak ini juga sudah gak asing untuk orang Indonesia. Pokoknya kalau belum ditembak ya belum pacaran. Ya meskipun ada beberapa orang yang inginnya mengalir saja seperti air sungai sampai hanyut juga bodo amat. 

Seperti halnya orang Indonesia, ternyata faktanya gaya pacaran orang Jepang “kokuhaku” ini jadi satu step penting dalam sebuah hubungan percintaan dengan orang Jepang. Banyak juga artikel mengenai orang Jepang yang kebingungan dengan alur pacaran orang asing terutama orang Barat yang secara alami menjadi pasangan setelah beberapa kali pergi kencan. Sedangkan untuk orang Jepang, mau kencan ratusan kali pun kalau belum ada pernyataan cinta, bisa dibilang kalian belum resmi pacaran. Untuk orang Indonesia mungkin hal ini jadi poin plus karena punya budaya pacaran yang sama. Intinya ingat, itu perasaan bukan jemuran, tolong jangan kelamaan digantung sampai kering.

Bayar Masing-Masing Saat Kencan

Hal ini juga menjadi pertanyaan besar untuk teman-teman di Indonesia. “Serius kencan pertama cowoknya gak bayarin?”. Memang sih di Indonesia ada budaya agar cowoknya yang membayar semua biaya kencan di kencan pertama. Tapi ini sudah 2020 loh! Sudah bukan waktunya perempuan selalu bergantung pada si pria termasuk soal bayar kencan yang remeh begini. Sepertinya budaya bayar masing-masing ini bagus untuk ditiru di Indonesia agar tidak memberatkan salah satu pihak saja saat kencan. Kencannya kan dinikmati berdua, kok yang bayar cuma sendiri?

Mari kita lihat fakta ini menurut data ya! Meskipun datanya agak lama, ada hasil angket yang dilakukan oleh perusahaan bir Kirin pada tahun 1998 dan 2004 tentang cara minum alkohol di usia dua puluhan yang ditargetkan kepada sekitar 9000 orang. Di tahun 2004, hasilnya, saat sedang pergi minum dengan pacar 54% pria membayar tagihannya. Namun di tahun 1998 hasilnya pria lebih banyak mentraktir pasangannya saat minum dengan persentase 61%. Perusahaan Kirin sendiri berkomentar bahwa pria yang memaksakan diri untuk membayar tagihan sudah berkurang.

Alasan Gaya Pacaran Orang Jepang Bayar Masing-Masing

Alasannya, sesimpel tidak ingin direpotkan atau merepotkan. Ada juga yang tidak suka berlama-lama di depan kasir, dan teman kencannya pun sepakat untuk ditraktir namun biaya kopi atau dessert setelah ini dia yang membayar. Wanita dewasa yang mandiri juga tidak suka ditraktir saat kencan. Hanya saja ada juga yang berpendapat ketika kencan dengan yang lebih tua dan berpenghasilan lebih tinggi darinya dengan gamblang menyatakan “bayar masing-masing ya” rasanya agak sedikit mengecewakan juga. Ya, disesuaikan dengan lawan kencannya juga mungkin?

Orang Jepang Tidak Mau Menikah

Karena hal ini benar-benar kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia, banyak di antara kamu pasti bertanya-tanya “Sedih banget hidupnya kok gak mau nikah sih?”. Ketika di Indonesia lagi gembar-gembornya urusan nikah muda, di Jepang malah orang-orang tidak mau menikah. Apa benar?

Seperti yang kita tahu, di Jepang sedang berlangsung apa yang disebut dengan “Shoushika (少子化)” atau penurunan jumlah penduduk. Menurut data statistik dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Sosial Jepang, satu dari dua orang pria di Jepang usia 30 - 34 masih belum menikah, dan satu dari tiga orang wanita di usia yang sama juga belum menikah. Untuk usia 35-39, satu dari tiga orang pria belum menikah dan satu dari empat wanita belum menikah. Dan angka persentase penurunannya terus meningkat dari tahun ke tahun. 

Alasan Orang Jepang Tidak atau Belum Menikah

Wah, kalau orang-orang ini tinggal di Indonesia, pasti sudah dihujani pertanyaan kapan nikah, kapan punya anak, kapan nambah anak, dan kapan-kapan lainnya. Sekarang, apa alasan banyak orang Jepang belum menikah di usia 30an? Sebenarnya, bukan semata-mata mereka tidak ingin menikah, tapi tidak ada kesiapan secara finansial. Hidup sendiri di Jepang saja butuh sangat banyak biaya, bagaimana jika harus menikah dan punya anak? Kalau tidak ada uang pasti pusing banget! Berbeda dengan orang Indonesia yang percaya dengan istilah rejeki ada yang mengatur padahal tidak melakukan apa-apa, orang Jepang lebih realistis bahwa jika tidak bekerja tidak akan mendapatkan uang. Tapi justru karena terlalu banyak bekerja, malah tidak punya kesempatan bertemu dengan lawan jenis untuk menjalin hubungan romantis. Kemudian beberapa tahun terakhir pun, muncul eksistensi “pria herbivor” yaitu pria-pria Jepang yang cenderung pasif. 

Gokon, Pertemuan Cari Jodoh ala Orang Jepang

Salah satu budaya yang menarik dari gaya pacaran orang Jepang adalah Gokon! Untuk kamu yang selalu dikelilingi teman sejenis dan susah bertemu dengan lawan jenis, Goukon bisa jadi salah satu jalan keluarnya nih. Tapi, apakah hal biasa yang ada di Jepang? Tentu saja! Budaya Gokon ini sudah berjalan berpuluh-puluh tahun loh!

Gokon adalah singkatan dari “godo konpa” yang secara harfiah berarti pertemuan campuran. Gokon biasanya dilakukan dalam bentuk makan malam dengan jumlah pria dan wanita yang sama banyak. Di sinilah saatnya menikmati makan malam sambil bercengkrama dengan lawan jenis dan mengenal lebih dalam satu sama lain. Setelah itu bisa bertukar nomor kontak dengan orang yang menarik perhatianmu dan bertemu lagi kemudian hari. Siapa tahu orang itu adalah belahan jiwamu. Gokon sudah berjalan sejak tahun 70-an oleh para mahasiswa yang mencari jodoh. Tapi bukan berarti Gokon hanya bisa dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa ya! Ajang cari jodoh ini bisa diikuti juga bahkan ketika kamu sudah memasuki dunia kerja.

Orang Jepang Tidak Suka Pamer Kemesraan

Dari banyak pengakuan cewek-cewek yang pernah pacaran dengan cowok Jepang, hal ini bisa dikatakan valid. Hampir semua berkata bahwa cowok Jepang tidak terlalu suka pamer kemesraan saat mereka sedang kencan di luar atau saat bersama teman-temannya. Tapi begitu mereka tinggal berdua saja, si cowok bisa jadi super manja dan manis banget. Jadi kalau sedang jalan dengan cowok Jepang dan dia sedikit cuek kepadamu, bukan berarti dia tidak peduli. Mungkin hanya canggung dan malu. 

Bagaimana dengan cowok yang pacaran dengan cewek Jepang? Saat sedang kencan di luar, perlakuan manis ala gentleman seperti sekedar membukakan pintu, menarikkan kursi, memuji penampilan si cewek atau usapan ringan di kepala sudah pasti akan membuat hati berdebar-debar. Jangan lupa untuk selalu memastikan si cewek sudah sampai rumah dengan selamat setelah kencan lewat pesan singkat. Asal tidak terlalu agresif dan memaksa, cewek Jepang akan sangat menghargai usahamu kok!

“Sampai Nanti” Tidak Selalu Berarti Doi Suka Ketemu Kamu!

Memang ya, orang Jepang dan bahasa Jepang itu tricky banget! Susah banget ditebak makna aslinya. Jadi desas-desus bahwa orang Jepang tidak suka bicara langsung to the point adalah benar adanya! Ada topik menarik juga mengenai masalah ini, yaitu arti sesungguhnya dari “mata kondo!” atau dalam bahasa Indonesianya “sampai nanti”. Menurut angket yang dilakukan situs Uranaru di Jepang, ada perbedaan antara “mata kondo” yang diutarakan laki-laki dan perempuan. Kalau setelah kencan pertama si cowok bilang “mata kondo”, ini artinya dia beneran tertarik sama kamu dan ingin pergi kencan lagi. 

Kalau si cewek yang bilang “mata kondo”, jangan dulu menaikkan harapan! Bisa jadi maksudnya adalah “terima kasih kencannya hari ini, tapi mendingan kita gak sering-sering ketemu. Jadi kita ketemu kapan-kapan lagi aja ya. Kapan-kapan yang entah kapan”. 

Untuk memastikan, kamu bisa tanya setelah itu “kapan kira-kira kita bisa bertemu lagi”, kalau lawan bicara dengan antusias mencoba mencocokkan jadwal denganmu, bisa jadi itu adalah sinyal yang bagus! Tapi kalau dia cuma dengan ringan menjawab “sekarang sih belum tahu ya”, kalian sudah harus mempersiapkan mental dan mengambil ancang-ancang mundur. Meskipun tidak ada salahnya usaha dulu, kalau lawan bicara sudah merasa gak nyaman lebih baik berhenti ya! Tidak ada hal yang baik jika dipaksakan.

Masih adakah seputar gaya pacaran orang Jepang yang sering kalian dengar dari sekitar atau kalian lihat di film dan drama? Kalau gitu, sudah memantapkan hati dong untuk mencari pacar orang Jepang? Tapi tetap yang paling penting saat berkencan adalah menjadi dirimu sendiri! 

Baca juga: Bahasa Jepang Cinta: Cara Panggil Pacar Sampai Cara Melamar Orang Jepang yang Out of The Box!

Penulis

WeXpats
Di sini kami menyediakan artikel yang mencakup berbagai informasi yang berguna tentang kehidupan, pekerjaan, dan studi di Jepang hingga pesona dan kualitas Jepang yang menarik.

Sosial Media ソーシャルメディア

Kami berbagi berita terbaru tentang Jepang dalam 9bahasa.

  • English
  • 한국어
  • Tiếng Việt
  • မြန်မာဘာသာစကား
  • Bahasa Indonesia
  • 中文 (繁體)
  • Español
  • Português
  • ภาษาไทย
TOP/ Budaya Jepang/ Kencan & Hubungan percintaan di Jepang/ Seputar Gaya Pacaran Orang Jepang yang Diketahui Orang Indonesia, Bener Gak Sih?

Situs web kami menggunakan Cookies dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas dan kualitas kami. Silakan klik "Setuju" jika Anda menyetujui penggunaan Cookie kami. Untuk melihat detail lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan kami menggunakan Cookies, silakan lihat di sini.

Kebijakan Cookie