Mengenal Hie Shrine, Hidden Gem Kuil Suci di Tokyo

WeXpats
2020/12/23

Dari sekian banyak hal yang terkenal tentang Jepang, keagamaan menjadi pengecualian. Meskipun demikian, setiap menginjakkan kaki di Jepang, kuil-kuil baik kuil Shinto ataupun Budha kerap terlihat dan tidak jarang dijadikan spot destinasi wisata. Salah satu kuil yang cukup terkenal adalah Hie Shrine.

Kuil yang terletak di Tokyo ini adalah satu dari sekian banyak kuil Shinto di Jepang. Kuil ini juga dikenal dengan nama kuil Hiyoshi Sannō-sha dan telah berdiri sejak tahun 1478. Dewa yang disembah di kuil ini adalah Ōyamakui-no-kami. Ōyamakui-no-kami. Kuil ini juga sangat terkenal sebagai tempat yang dikunjungi saat perayaan shichi-go-san.

Daftar Isi 

  1. Sejarah Hie Shrine
  2. Lokasi dan Cara Menuju ke Hie Shrine
  3. Ritus Ibadah
  4. Etika

Sejarah Hie Shrine

Hie Shrine atau Kuil Hie diketahui telah berdiri sejak zaman Kamakura dan berdasarkan catatan, kuil ini dibangun oleh Ota Dokan. Kuil ini dibangun untuk menyembah Ōyamakui-no-kami, Dewa yang berdiam di Gunung Hie, prefektur Shiga. Kuil Hie ini sendiri mengambil nama lain dari Ōyamakui-no-kami, yaitu Dewa Hie.

Pada zaman Edo, Tokugawa Ieyasu, sang Shogun mulai memerintah. Ia lalu memindahkan kuil ini ke kastil Edo dan menjadi pelindung Kuil Hie. Pada saat itu pula, dewa yang ada di Kuil Hie disembah sebagai pelindung kota Edo yang kini dikenal dengan Tokyo.

Namun, pada tahun 1607 putra Tokugawa Ieyasu, Tokugawa Hidetada memindahkan kembali kuil ini ke Hayabusa-Cho agar orang-orang di luar kastil dan kota Edo bisa berdoa dan beribadah di kuil tersebut.

Kuil ini sempat terbakar dan hancur, sebelum akhirnya dibangun ulang oleh Tokugawa Ietsuna di lokasi yang sekarang ini. Ketika perang dunia kedua berlangsung, Kuil Hie mengalami kerusakan yang parah. Kuil ini lalu dibangun kembali tahun 1958. Bangunan Kuil Hie yang ada saat ini merupakan hasil dari pembangunan ulang pasca perang dunia tersebut.

Kuil Hie menyimpan satu harta nasional yakni sebuah tachi atau pedang yang kerap digunakan oleh samurai bernama Itomaki no tachi. Tidak hanya itu, kuil ini juga menyimpan 14 aset budaya yang penting, 13 pedang dan satu naginata.

Lokasi dan Cara Menuju ke Hie Shrine

Bagi pelancong yang ingin berkunjung ke Hie Shrine, kuil ini bisa ditemukan di Akasaka-Nagatacho, Tokyo. Letak kuil ini berdekatan dengan stasiun Akasaka 2nd Exit atau pada Tokyo Metro Chiyoda Line. Untuk menuju Kuil Hie dari stasiun Akasaka, kira-kira dibutuhkan waktu 3 menit dengan berjalan kaki.

Stasiun terdekat lainnya dari Kuil Hie ini adalah Stasiun Tameike-sanno 7th exit. Sama seperti stasiun Akasaka, dibutuhkan waktu 3 menit dengan berjalan kaki dari stasiun ini untuk sampai ke Kuil Hie.

Disamping dua stasiun ini, pelancong bisa memulai perjalanan dari Stasiun Tokyo maupun Shinjuku dan naik kereta Tokyo Metro Marunouchi Line. Kereta ini akan berhenti di Stasiun Kokai-gijido mae. Dari stasiun ini ke kuil bisa ditempuh dengan jalan kaki selama kurang lebih 8 menit.

Ritus Ibadah

Sebagai salah satu kuil, Hie Shrine kerap kali menjadi pusat ibadah orang Jepang. Tidak hanya itu, kuil ini juga sering digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan ritual pernikahan tradisional Jepang atau Shinzen Shiki.

Selain itu, kuil ini juga menyelenggarakan festival Sanno, salah satu dari tiga festival terbesar di Tokyo. Festival ini diselenggarakan pada pertengahan bulan Juni tahun genap selama kurang lebih seminggu. Sanno matsuri berkaitan dengan dewa atau Kami yang disembah di Kuil Hie tersebut, yakni Ōyamakui-no-kami yang menjadi pelindung kota Tokyo.

Selama festival berlangsung biasanya akan diadakan beberapa event-event dalam skala kecil. Sementara itu, acara utama dari festival ini adalah parade di pusat Tokyo selama kurang lebih sembilan jam. Parade ini biasanya terdiri dari kurang lebih 300 hingga 500 orang yang berpakaian warna-warni.

Hal terpenting dari festival ini adalah mikoshi atau kuil kecil dimana Dewa bersemayam yang dibawa keliling kota. Parade festival Sanno dimulai dari Kuil Hie yang juga bertanggung jawab atas penyelenggaraan festival.

Sebelum berjalan ke tempat lain, peserta parade akan melangkah ke cincin jerami berukuran besar yang melambangkan pemurnian. Setelah itu parade dimulai dengan melewati beberapa daerah. Ketika siang hari tiba, rombongan parade sampai ke Istana Kekaisaran Tokyo dan berhenti selama kurang lebih setengah jam.

Pada saat itu, mikoshi tengah melakukan upacara keagamaan sementara para tetua pendeta-pendeta masuk ke dalam istana dan berdoa untuk kaisar dan keluarganya. Sesudah 30 menit berlalu parade dilanjutkan dengan menuju Stasiun Tokyo, sebelum kembali beristirahat di Nihonbashi lebih tepatnya di Kuil Hie kecil.

Tepat setelah satu jam, rombongan parade kembali melanjutkan perjalanan mengitari kota Tokyo sebelum akhirnya kembali ke Kuil Hie.

Meskipun festival Sanno termasuk ritus besar yang diadakan di kuil tersebut, festival ini tidak bisa dilakukan setiap tahun. Sebagai gantinya, kuil ini tetap ramai dikunjungi pengunjung pada hari-hari biasa untuk beribadah maupun tujuan lainnya.

Etika

Ketika mengunjungi sebuah tempat ibadah, termasuk kuil, etika menjadi satu hal yang sangat diperhatikan. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan pengunjung kepada kuil dan Dewa yang bersemayam di dalamnya. Etika yang harus dipatuhi ketika berkunjung ke kuil, termasuk Kuil Hie antara lain:

1. Temizu

Temizu terdiri dari kata Te dan Mizu yang berarti tangan dan air. Ketika mengunjungi kuil, pengunjung diharuskan untuk melakukan ritual penyucian yang disebut dengan temizu. Seperti yang diketahui kuil merupakan tempat yang suci, oleh karena itu untuk masuk ke dalam kuil, pengunjung pun harus dalam keadaan suci dari hal jahat dan polusi.

Biasanya kuil akan menyediakan bak yang terbuat dari batu sekaligus sendok untuk mengambil air. Dalam melakukan temizu ada tata cara yang harus diperhatikan, diantaranya:

  • Sebelum masuk ke dalam kuil, pergi ke Temizuya atau bak berisi air.

  • Ambil air menggunakan tangan kanan lalu tuang ke tangan kiri, lalu lakukan sebaliknya.

  • Kembali ambil air dengan tangan kanan, lalu tuang ke tangan kiri yang dalam posisi menengadah. Dengan tangan kiri berisi air tersebut, berkumur-kumurlah untuk membersihkan mulut.

  • Cuci kembali tangan kiri.

  • Letakan sendok ke tempat asalnya.

2. Hairei

Setelah melakukan Temizu, pengunjung bisa melanjutkan proses berdoa atau Hairei. Sama seperti temizu, saat melakukan hairei ada tatacara dan urutan yang perlu dipatuhi. Tata cara melakukan hairei adalah:

  • Pastikan sudah mencuci tangan dan mulut sebelum berdoa.

  • Pergi ke altar.

  • Gerakan tali yang menghubungkan ke lonceng agar lonceng berbunyi.

  • Masukan beberapa uang koin ke dalam kotak.

  • Bungkukan tubuh sedalam mungkin.

  • Tepuk tangan dua kali sembari berdoa atau memohon.

  • Kembali membungkuk sedalam mungkin.

Hie Shrine atau Kuil Hie adalah bagian dari simbol religi di Tokyo dan juga Jepang. Dengan sejarahnya yang panjang, kepercayaan mengenai kuil tersebut dan festival yang diadakan di Kuil Hie, tidak heran jika kuil ini menjadi salah satu destinasi wisata. Bagi pelancong yang tengah berkunjung ke Jepang sebaiknya tidak melewatkan Kuil Hie ini.

Baca juga: Wajib Tahu Tentang Prefektur Jepang dan Pembagian Wilayahnya

Penulis

WeXpats
Di sini kami menyediakan artikel yang mencakup berbagai informasi yang berguna tentang kehidupan, pekerjaan, dan studi di Jepang hingga pesona dan kualitas Jepang yang menarik.

Sosial Media ソーシャルメディア

Kami berbagi berita terbaru tentang Jepang dalam 9bahasa.

  • English
  • 한국어
  • Tiếng Việt
  • မြန်မာဘာသာစကား
  • Bahasa Indonesia
  • 中文 (繁體)
  • Español
  • Português
  • ภาษาไทย
TOP/ Wisata di Jepang/ Tujuan & Hal-hal yang harus dilakukan di Jepang/ Mengenal Hie Shrine, Hidden Gem Kuil Suci di Tokyo

Situs web kami menggunakan Cookies dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas dan kualitas kami. Silakan klik "Setuju" jika Anda menyetujui penggunaan Cookie kami. Untuk melihat detail lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan kami menggunakan Cookies, silakan lihat di sini.

Kebijakan Cookie